Agama Politik & Kekuasaan (Part 2)

Seringkali orang bertanya , kenapa agama dibawa-bawa ke dalam po­litik? Atau sebaliknya ,  kenapa po­li­tik di bawa-bawa ke dalam agama? Se­ring timbul pertanyaan , bagaimana da­pat satu partai politik didasarkan ke­pada agama , ibarat halnya dengan par­tai politik Islam Masyumi umpa­ma­nya. Pertanyaan ini timbul oleh se­bab seringkali orang mengartikan bah­wa yang dinamakan agama itu ha­nyalah semata-mata satu sistem per­ibadatan antara makhluk dengan Tu­han Yang Maha Kuasa. Definisi ini mungkin tepat bagi bermacam-ma­cam agama , akan tetapi tidak tepat ba­gi agama yang berjulukan Islam itu , yang hakikatnya kasatmata yaitu lebih da­ri itu.

Kalau kita meminjam perka­ta­an seorang orientalis , H.A.R. Gibb , ma­ka kita dapat simpulkan dalam sa­tu kalimat "Islam is much more than a religious system. It is a complete ci­vilization" (Islam itu lebih dari sis­tem peribadatan , la yaitu satu ke­bu­dayaan yang lengkap sempurna). Ma­lah lebih dari itu , Islam yaitu sa­tu falsafah hidup , satu levensfi­lo­so­fie , satu ideologi , satu sistem peri ke­hidupan , untuk kemenangan ma­nu­sia sekarang dan di alam abadi nanti. I­deologi ini menjadi pedoman bagi ki­ta sebagai muslim , dan buat itu ki­ta hidup dan buat itu kita mati.


Oleh alasannya yaitu itu bagi kita sebagai muslim , kita tidak dapat mele­pas­kan diri dari politik. Sebagai o­rang yang berpolitik , kita tak dapat me­lepaskan diri dari ideologi kita , yak­ni ideologi Islam. Bagi kita , me­ne­gakkan Islam itu tak dapat di­le­pas­kan dari menegakkan masyarakat , menegakkan negara ,  menegakkan Kemerdekaan. Islam dan penja­ja­­han yaitu paradoks , satu pertenta­ngan yang tak ada persesuaian di da­lamnya. Dengan sendirinya seorang mus­lim , seorang yang berideologi Islam , tak akan dapat mendapatkan penjajahan apapun juga macamnya. Memperjuangkan kemerdekaan bagi kita , bukan semata-mata lantaran didorong oleh aspirasi nasionalisme atau kebangsaan , akan tetapi pada hakikatnya yaitu alasannya yaitu kewajiban yang tak dapat dielakkan oleh tiap-tiap muslim yang mukallaf.

Maka dapat dimengerti bahwa di dalam sedarah negeri kita Indone­si­a , dalam menentang penjajahan dan kolonialisme , kaum Muslimin da­ri era ke era tampil ke depan de­ngan semangat pengorbanan yang ber­nyala-nyala. Pemberontakan I­mam Bonjol , Diponegoro dan lain - la­in hero muslim Indonesia , men­jadi sumber pandangan gres bagi bangsa ki­ta dan keturunan selanjutnya. Bukan kita hendak berbangga dengan ja­sa-jasa mereka , yang sudah dahulu da­ri kita itu. Mereka sudah lewat dan me­reka telah memetik buah dari apa yang mereka perbuat dan perjuangkan. Kita kemukakan itu sebagai per­i­ngatan , bahwa dimana si lemah per­lu dibela , dimana si tertindas harus di­lepaskan dari tekanan dan ketakutan , maka golongan Islam tampil ke­muka membela hak dan kebenaran A­gamanya , ideologinya , dan haram ba­ginya berpeluk tangan.

Kita tak hendak bermegah de­ngan perbuatan orang-orang kita yang telah dahulu dari kita. Tetapi re­volusi yang meletus di Tanah Air ki­ta sejak empat tahun yang lalu (ar­tikel ini ditulis tahun 1950 –pe­nyun­ting) , cukup memberi ukuran ba­­gi kita , dan umat Islam yang se­ka­rang ini telah berhasil  membuktikan , bahwa ruh Islam-nya itu tidaklah mati. Bahkan ia yaitu merupa­kan sumber yang tak kunjung kering , pen­dorong yang maha jago dalam per­juangan menentang penjajahan.

Sejarah menjadi saksi bahwa u­mat Islam Indonesia tidaklah ter­be­lakang dari saudara - saudaranya go­longan lain. Ia sebenarnya , ber­korban dan berjihad dalam pel­ba­gai lapangan dengan tujuan yang sa­tu. Melepaskan negara dari penja­ja­han , lahir dan batin , menegakkan dan mengisi kedaulatan atas seluruh ke­pulauan Tanah Air. Maka Mas­yumi dalam pergolakan yang meng­ge­lora itu yaitu kanal dari kewajiban berat bagi umat Islam Indonesia di lapangan politik.

Dalam persimpangsiuran bermacam pedoman yang ada , kita bersedia mencari dasar persamaan dalam hal-hal yang dapat dijalankan bahu-membahu , berjalan atas dasar "kalimatin sawa'in bainana wabainakum" (Q.s. Ali Imran : 64). Tak ada fa­edahnya bagi kita menghabiskan waktu dengan rasa gusar kesal , bilamana berjumpa dengan perlawanan paham atau ideologi. Maka dengan kepala hambar dan jiwa yang besar , seorang Muslim sewaktu–waktu harus terpelajar menempatkan dirinya pada pendirian yang tentu , dengan mengambil sikap  Qul ya qaumi i'malu 'ala makanatikum inni 'amil." (Katakanlah [wahai Muhammad] , wahai kaumku berjuanglah kau atas daerah dan dasar keyakinanmu , sesungguhnya akupun yaitu seorang pejuang pula.") (Q.S. Al-An'am: 135).

Dalam pada itu kita mengga­riskan jalan dalam masyarakat dengan hening , tapi tegas dan positif , se­la­ras dengan khithah Rasulullah s.a.w. , dalam membawa tugasnya: "Ka­takanlah ! Inilah jalanku. Aku a­jak kepada jalan Yang Mahakuasa dengan bukti-buk­ti , gue dan pengikut-pengikutku. Ma­hasuci Tuhan , dan gue bukanlah ter­masuk orang- orang yang menye­ku­tukan Tuhan" (Q.s. Yusuf: 108).

Februari 1950
Dikutip dari M. Natsir , Capita Selecta 2 (Jakarta: Pustaka Pendis , 1957) , hlm. 295-299
Berikut ini yaitu goresan pena Buya Mohammad Natsir yang pernah ditulis ulang oleh kawan-kawan DISC Masjid UI dalam buletin Khazanah.

Komentar